Cinema XXI

"Chance favors the prepared mind" – Undersiege II.

“The Blade”, Kelemahan Adalah Sisi Lain Dari Kelebihan

Ditulis oleh Space Police 001 Ratu Adil di/pada Juli 6, 2009

Seorang penempa senjata mengadopsi Ding On, anak temannya yang mati terbunuh. On selain bekerja di situ juga mempelajari sedikit beladirinya.
Satu hari On menemukan bahwa ayahnya dibunuh oleh Fei Lung, seorang penjahat bertato yang sakti. Ia mengambil pedang patah milik ayahnya dan keluar untuk membalas dendam. Anak pandaibesi yang bernama Ling mengikutinya, tapi terjebak dalam satu pertempuran dengan geng lokal. Saat On mencoba menolongnya, tangannya putus dalam pertarungan, dan dikira sudah mati oleh teman-temannya, kecuali Ling dan seorang temannya yang terus keluar mencarinya.

Ding On ditemukan oleh seorang gadis yatimpiatu bernama Blackie. Merasa dirinya sudah tak berguna, On membuang harapannya untuk pembalasan, mengubur pedang ayahnya dan mencoba memulai hidup baru.
Saat kerja di tempat makan, On selalu dikerjain karena ia cacat. Ia juga menemukan pembunuh ayahnya, tapi tak mampu untuk membalas, ini membuatnya semakin frustrasi. Semakin buruk lagi, tempat tinggalnya dibakar penjahat dan ia dipukuli tanpa ampun.

Saat mencari sisa makanan di reruntuhan rumah, Blackie menemukan manual kungfu yang disembunyikan ortunya. On yang gembira, mempelajari tehnik yang tertera di buku itu tapi tak menemukan pedang untuk berlatih, akhirnya menggali lagi pedang ayahnya. Tapi karena cacat tangannya dan buku yang tak lengkap halamannya, usahanya menjadi sia-sia.

Dalam puncak kemarahannnya akibat frustrasi, ia menemukan terobosan dengan menyambung pedang itu dengan rantai, sehingga berhasil menciptakan tehnik kungfu putaran pedang yang bisa menutupi cacat tangannya dan pedangnya yang patah.

Akhirnya ia pun bertarung dengan Fei Lung yang di akhir film ternyata juga dilengkapi pedang yang sama seperti dirinya. Tapi melalui pertarungan sengit akhirnya Ding berhasil merobek perut Fei Lung dan memenangkan pertarungan.

 

the_blade

4 Tanggapan ke ““The Blade”, Kelemahan Adalah Sisi Lain Dari Kelebihan”

  1. Dhamma yang berkaitan dengan ini bisa dibaca di:
    http://mahavatar.wordpress.com/2009/03/27/kebenaran-makanan-apa-itu/

    di bagian bawah halaman.

  2. Yang Saya sukai dari film ini adalah film ini tak terlalu didramatisir.
    Berjalan datar, tanpa mementingkan efek pencahayaan dan suara. Dengan begitu justru penokohan dan plotnya menjadi lebih tajam dan hidup.

  3. Memang cocok untuk film dengan kisah kisah pahit dan perjuangan dibuat seperti itu.

    Sedang film-film Tsui Hark lain seperti Once Upon a Time in China 1-6 memang harus menonjolkan efek audio visual karena yang ditonjolkan adalah kungfu.

  4. Gaya pengisahan seperti ini lalu diulang lagi oleh Tsui Hark di film “Seven Swords”. Sebuah film lain yang juga bagus.
    Kapan-kapan akan Saya ulas.

Komentar telah ditutup